Feeds:
Posts
Comments

90% sakit terjadi akibat stress

Stress menjadikan tubuh kita rentan terhadap sakit penyakit. Dalam bukunya “Brain Rules”, John Medina menyebutkan bahwa orang yang stress mengalami penurunan mobilitas sel darah putih. Jumlah sel darah putih orang yang stress memang tidak berkurang namun pergerakannya akan kurang lincah untuk membasmi virus/penyakit yang masuk ke dalam tubuh.

Inilah yang saya alami selama satu minggu sejak tanggal 1 Agustus. Kelelahan yang saya alami ditambah stress yang membuat saya berpikir terlalu banyak menjadikan saya terserang virus sehingga harus beristirahat selama 1 minggu.

Penyebab utama saya sakit memang akibat kelelahan, tapi stress ringan pun memberikan andil yang besar untuk penyakit saya tersebut.

Saya mengalami demam, tubuh linu dan stamina yang drop sehingga beberapa hari sulit beranjak dari tempat tidur. Lucunya, ketika cek darah, darah saya begitu baik keadaannya (saya cek darah karena dianalisis suspek demam berdarah).

So, kesimpulannya memang saya sakit akibat stress. Stress menjadikan sel darah putih tidak bergerak lincah sehingga menyebabkan virus mendiami tubuh saya.

Puji Tuhan saya sudah sehat dan kondisi tubuh dalam keadaan fit.

Hati yang gembira adalah obat

Demikian perkataan kitab suci. Dan memang benar adanya, hati kita menentukan kondisi tubuh kita. Jika hati kita gembira, antusias, secara otomatis otak kita pun segar dan kita menjalani hidup dengan antusias.

… tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang

adalah lanjutan dari ayat kitab suci tersebut. Artinya, semangat kita yang patah dapat menjadikan kita terserang penyakit.

So, hal yang paling utama untuk mencegah penyakit masuk dalam tubuh kita adalah senantiasa hidup dalam semangat yang berapi-api. Dibarengi dengan gaya hidup sehat, kita akan terlindung dari sakit penyakit di luar sana.

Saya ingin sedikit membahas mengenai stress yang saya alami. Setelah saya pikir-pikir, stress yang saya alami:

  1. adalah masalah kekuatiran akan masa depan. Saya mengalami penurunan kepercayaan diri akibat memasuki babak baru dalam kehidupan, saya membahasnya sedikit di blog saya yang lain.
  2. adalah karena saya terlalu berpikir akan pekerjaan tanpa mencoba mengerjakan pekerjaan itu. Pekerjaan tidak akan selesai jika hanya dipikirkan, pekerjaan ya harus dikerjakan. Saya berpikir terlalu banyak pada pekerjaan-pekerjaan saya yang menumpuk, padahal jika saya mulai saja mengerjakannya mungkin saya tidak akan mengalami stress.
  3. adalah karena visi hidup yang sempat kabur akibat pekerjaan rutin. Saya terlibat dengan banyak pekerjaan rutin yang bsersifat administrasi, sehingga visi hidup sempat kabur. Saya tidak memperbaharui diri dengan mengingat visi hidup. Dan ketika visi hidup kabur, semangat pun akan hilang.
  4. adalah karena saya menunda pekerjaan. Pekerjaan yang sederhana pun saya tunda, pekerjaan-pekerjaan yang tertunda akan terus memenuhi pikiran kita. Kita sebaiknya langsung mengerjakannya dan cepat-cepat menyingkirkannya dari pikiran kita.
Saat ini, saya sedang menata kembali kehidupan saya. Mengingatkan diri ini kepada visi hidup mula-mula. Mengubah cara berpikir dengan menempatkan kekhawatiran saya menjadi suatu tantangan baru di masa depan.
Jangan sampai kita kehilangan semangat akibat stress, hal ini akan membawa kita pada penyakit fisik yang membuat kita semakin terpuruk. Obat-obatan tidak akan membantu banyak, apabila kita tidak melawan sendiri penyakit itu dengan semangat hidup kita.
– be blessed –

Masa depan suatu bangsa terletak pada generasi mudanya

Itulah ungkapan yang sering kita dengar mengenai nasib suatu bangsa. Namun, apakah demikian?

Saya memiliki pendapat yang berbeda dengan ungkapan itu, menurut saya:

Masa depan suatu bangsa terletak pada para guru

Saya berani menjamin:

Semua orang sukses di dunia ini PASTI memiliki seorang guru yang menjadi inspirasinya.

Apakah guru itu adalah orang tuanya, gurunya di sekolah/kampus, atau mentor pribadinya, mereka adalah orang yang menaruh optimisme di hati setiap anak, di setiap hati generasi muda dan di setiap murid yang mereka ajar.

Ironisnya, banyak guru yang tidak paham akan hal ini, mereka mengajar untuk hidup, bukan hidup untuk mengajar. Guru seharusnya sadar bahwa murid yang mereka ajar adalah generasi penerus bangsa.

Sedih rasanya mendengar berita belakangan ini mengenai contek masal yang ternyata dikoordinir oleh para guru. Sesungguhnya bukanlah sang anak yang salah, guru lah yang salah.

Pengaruh guru itu sangat besar hingga mampu menjadi faktor penentu keberhasilan suatu negara. Ironisnya, peran guru di negara ini seringkali dikesampingkan, tidak mendapat penghargaan yang pantas dari negara ini. Padahal ada banyak guru yang memiliki komitmen yang luar biasa dalam mengajar.

Seorang guru itu ibarat komposer musik. Komposer musik pada saat konser musik sama sekali tidak menghasilkan suara, tapi karyanya mampu membangkitkan potensi pada setiap pemain musik/penyanyi yang dia ajar dan pimpin.

Itulah mengapa guru disebut “pahlawan tanpa tanda jasa” yang seharusnya diberi penghargaan yang pantas.

– Be blessed –

Ada seseorang yang memiliki hutang yang besar kepada seorang yang kaya raya. Karena orang itu tidak bisa membayar hutang kepada sang orang kaya itu, ia lalu menawarkan dirinya untuk bekerja di rumah si orang kaya itu.

Sang orang kaya pun setuju. Dia lalu mempekerjakan orang yang berhutang itu di rumahnya. Si orang itu harus bekerja hingga hutang-hutangnya lunas.

Apa yang terjadi dengan orang itu apabila periode bekerjanya sudah cukup untuk melunasi hutangnya?

Tentu ia sudah bebas menjadi hamba, bukan?

Dan apabila dia berhutang lagi, tentu dengan mudahnya ia akan bekerja di rumah orang kaya itu lagi hingga hutangnya lunas. Demikian hidup sang orang yang senantiasa berhutang itu.

Dia hanya menganggap pekerjaannya di rumah si orang kaya hanya sekedar sarana untuk melunasi hutangnya.

Bekerja di ladangnya Tuhan tidaklah demikian.

“Semakin kita bekerja di ladang-Nya semakin pula kita berhutang pada-Nya.”

Kita tidak bisa bekerja hanya karena Ia sudah memberkati kita yang membuat kita seolah-olah berhutang pada-Nya.

Pola pikir yang berbeda dengan dunia dimana semakin kita melayani-Nya bukannya mengurangi hutang kita pada-Nya. Malah membuat kita semakin merasa berhutang pada-Nya.

Mengapa? Karena Dia sudah terlalu baik pada kita. Sudah bisa bekerja di rumah-Nya saja sudah merupakan suatu kehormatan bagi kita.

– Be blessed –

The curse of expertise

We are all expert in some way

Kita semua adalah ahli dalam suatu hal. Kita mahir dalam suatu bidang, kita semua memiliki jam terbang tinggi dalam bidang tersebut. Kita dipuji dengan segala prestasi yang kita pernah buat di masa lalu. Kita menjadi sangat biasa untuk mengerjakan pekerjaan pada bidang kita.

Pada saat itulah kita berada dalam status quo, pada masa itulah kita berhenti mengembangkan diri, kita berhenti untuk belajar lebih banyak dan kita menjadi terlalu “biasa” dalam mengerjakan pekerjaan kita.

Ini yang saya namakan sebagai “the curse of expertise” (mungkin bahasa Indonesianya : kutukan keahlian).

Kutukan ini memang terjadi pada mereka yang sudah ahli, mereka yang tahu segalanya, mereka yang sudah memiliki jam terbang tinggi pada pekerjaan mereka.

Efek buruknya adalah mereka menjadi kehilangan “feel” pada pekerjaan mereka, kesungguhan hati mereka pada pekerjaan berkurang karena keahlian mereka yang sudah tinggi (menurut mereka). Mereka menjadi miskin kreatifitas dan hasil pekerjaan menjadi rata-rata (mediocrity).

Saya sendiri pernah merasakannya baik secara individu ataupun dalam tim. Saya terlalu banyak berasumsi akan pekerjaan yang sudah sering saya lakukan. Saya menjadi kehilangan “feel” pada tugas yang harus saya kerjakan. Hasilnya seperti yang saya katakan di atas, hasilnya menjadi biasa-biasa. Dan terkadang, kita menjadi permisif terhadap hasil yang biasa-biasa itu.

So, how to solve it ? saya teringat akan kata-kata dari pepatah Jepang berikut

In the beginner’s mind there are many possibilities, but in the experts mind only a few

Kita lupa ketika kita pertama kali mengerjakan pekerjaan itu. Kita lupa akan perasaan tegang kita, persiapan kita yang berlebihan dan kekhawatiran kita ketika melakukan pekerjaan kita untuk pertama kalinya.

Kita lupa pada perasaan ketika pertama kali kita mempelajari suatu hal, kita lupa pada perasaan ketika kita pertama kali masuk kerja, kita lupa pada perasaan ketika kita melakukan pekerjaan kita dengan luar biasa.

Perasaan dan pola berpikir seperti seorang amatirlah yang bisa mengembalikan “feel” kita pada pekerjaan kita.

Kita harus senantiasa merasa menjadi seperti pemula ketika melakukan pekerjaan, walaupun pekerjaan itu adalah pekerjaan yang menjadi keahlian kita.

Never stop learning and never be an expert. Always be a beginner in everything we do, regardless how great we are.

– Be blessed –

 

 

 

 

 

 

 

Siang tadi saya iseng-iseng melakukan percobaan yang saya baca dan saksikan melalui internet. Karena penasaran, saya pun mencobanya sendiri dan hasilnya, SUKSES. Kedua percobaan tersebut merupakan topik pusat massa, atau center of mass, atau juga kadang disebut center of gravity.

Saya lalu merekam kedua experimen sederhana tersebut dengan iMovie, berikut hasilnya

Cool isn’t it ? just try at your home. Bahan-bahannya mudah diperoleh dan yang pasti pengalaman setelah melakukan itu sangatlah mengasyikan.

– Be blessed –

Kairos

Kairos berarti kesempatan. Berbeda dengan Kronos bisa diartikan sebagai “waktu”. Tidak ada yang spesial dari kronos, karena kronos hanya berarti waktu yang berulang, sedikit makna yang terkandung di dalamnya. Kairos berarti kesempatan-kesempatan yang terdapat dalam kronos. Kesempatan ini sangat penting.

Contohnya saat melamar kerja, kita menyebutkan kairos-kairos kita di dalamnya, misalnya tamat SD, SMP, SMA, waktu lulus dari Universitas dan bukan yang sifatnya kronos misalnya berjalan, sikat gigi, mandi. Yang pertama sarat makna sedangkan yang kedua tidak. Yang pertama begitu penting karena terjadi 1x seumur hidup sedangkan yang kedua terjadi hampir setiap hari dalam hidup kita.

Kairos yang kita lalui terkadang harus kita refleksikan kembali sehingga kita bisa melihat gambaran besar dari setiap kairos tersebut. Mungkin istilah yang kerap digunakan adalah “benang merah”. Ada yang ingin Tuhan katakan kepada kita dari setiap kejadian yang berupa kairos itu.

Hari ini saya ingin bersyukur untuk setiap kairos yang terjadi dalam kehidupan saya. Kairos-kairos itu sangat penting ketika saya menjalani kehidupan saya yang sekarang. Bisa dikatakan saya sedang memasuki masa hidup yang baru. Suatu babak baru dalam hidup yang memerlukan keberanian lebih untuk menjalaninya.

Setiap kairos itu menjadi bekal bagi saya ketika saya menjalani hidup yang sekarang. Saya begitu menikmati kehidupan baru ini, saya antusias dengan kehidupan yang sedang saya jalani, karena setiap kairos tersebut memberi makna mendalam pada apa yang saya kerjakan sekarang.

Kairos itu ada yang enak ada juga yang tidak enak. Dalam kasus saya, kairos itu banyak yang tidak enaknya, ketika menjalaninya terkadang saya harus mengorbankan banyak hal, berkorban waktu, energi dan emosi. Namun, Tuhan itu baik, Dia memberi makna pada setiap kairos tersebut, namun dengan syarat juga, kita mampu peka terhadap kairos-kairos tersebut.

Berdiam diri adalah cara yang saya lakukan untuk merefleksikan setiap kairos dalam kehidupan saya. Saya tidak ingin terjebak dalam rutinitas yang akhirnya menguras tenaga fisik dan mental. Tombol “pause” dalam kehidupan itu penting, karena memberikan kita perspektif yang lebih dalam memandang hidup.

So, berdiam diri dan lihat ke belakang setiap kejadian penting dalam hidup kita. Saya telah menjalaninya dan hasilnya… saya tahu visi hidup saya dan bagaimana menjalaninya dengan setia dan konsisten.


The art of zooming out

Kita hidup di dunia yang serba cepat, dimana semuanya serba instan dimulai dari makanan, pekerjaan hingga ritme hidup kita pun dipaksa menjadi lebih cepat.

Kita hidup di dunia yang tampaknya menuntut untuk berbuat lebih banyak, mengkonsumsi lebih banyak dan mendapat lebih banyak. Kita hidup di dunia dimana “banyak” itu lebih baik.

Alhasil, kita menjadi manusia yang hidupnya untuk bekerja. Kita bekerja lebih keras untuk mendapat penghasilan lebih banyak, mendapat pengakuan lebih besar dan akhirnya kedua hal itu kita gunakan untuk mengkonsumsi lebih banyak, lebih banyak dan lebih banyak lagi.

Kita bangun di pagi hari, bekerja hingga sore atau malam hari lalu tidur untuk memenuhi kebutuhan kita. Lalu menghabiskan akhir pekan dengan bersenang-senang, lalu mengeluh ketika awal pekan tiba.

Kita juga hidup dimana para orang tua menekan anak-anak mereka untuk belajar lebih keras, karena mereka takut anak mereka tidak mampu bersaing di masa depan. Setidaknya ini yang saya lihat dari pengalaman saya sendiri.

Namun, tanpa sadar itulah yang membuat kita (dan anak-anak) stress menghadapi hari-hari. Saya biasa mengamati status Facebook teman-teman, baik mereka yang usianya sebaya, lebih tua atau lebih muda. Mereka mengeluh akan pekerjaan yang banyak, lembur berjam-jam, PR yang banyak dan ulangan yang menanti.

Saya berkeyakinan bahwa

 Jika kita mengeluh pada hal yang kita lakukan maka kita tidak menyukai apa yang kita lakukan.

Familiar dengan keadaan seperti di atas?

Intinya, kita tanpa sadar terjebak pada rutinitas yang sebetulnya tidak kita sukai. Kita terjebak pada pekerjaan yang bukan pekerjaan impian kita. Kita tanpa sadar mendidik anak jauh dari talenta mereka.

 Tanpa sadar, kita berusaha keras menaiki tangga tanpa sadar bahwa kita menaiki tangga yang salah.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Di blog ini saya ingin berbagi mengenai hal yang baru saja saya lakukan pagi ini, saya namakan The art of zooming out. 

Mungkin kita semua tahu mengenai fungsi fitur zoom di alat elektronik seperti kamera. Di kamera, fitur ini berfungsi untuk mendekatkan objek (zoom in) dan menjauhkan objek (zoom out) relatif terhadap kamera yang kita gunakan.

Ketika kita menggunakan fitur zoom out, kita bisa melihat objek yang kita teliti menjadi berukuran lebih kecil sehingga lingkungan di sekeliling objek tersebut menjadi terlihat. Kita bisa mengetahui dimana objek itu sebenarnya berada.

Nah, saya rasa hidup juga seperti itu. Kita harus men-zoom out pikiran kita sehingga kita lebih bisa melihat gambaran besarnya. Orang biasa menyebut pola pikir ini dengan “melihat gambar besar” atau “berpikir di luar kotak”.

Dengan cara berpikir seperti ini, kita bisa melihat dari sudut pandang yang lain tentang apa yang sedang kita kerjakan. Ada beberapa hal yang saya bisa bagikan mengenai manfaat dari cara berpikir seperti ini :

  • kita bisa menilai perlu/tidaknya suatu pekerjaan yang kita lakukan
  • kita bisa menilai perlu/tidaknya suatu materi yang sedang kita pelajari
  • kita bisa menilai perlu/tidaknya suatu barang yang ingin kita beli
  • kita bisa menilai perlu/tidaknya suatu tindakan yang ingin kita lakukan
  • kita bisa menilai perlu/tidaknya suatu reaksi yang ingin kita tunjukan ketika sesuatu hal buruk menimpa kita

Lalu bagaimana caranya? Berikut dua hal yang saya lakukan :

Take alone time and move away from distraction

Kita harus menyediakan waktu untuk sendiri (solitude), waktu yang tidak terganggu oleh apapun baik secara nyata maupun maya. Maya? Ya, tanpa sadar kita juga berada di dunia yang penuh dengan intrupsi terlebih dari dunia maya. Kita terintrupsi dari telepon seluler, terintrupsi dari IM chatting, notifikasi Facebook, twitter dan situs-situs semacamnya.

Mengapa ini perlu? Karena kita memerlukan ketenangan, fokus dan konsentrasi saat berpikir. Kita perlu ketenangan saat merefleksi kejadian-kejadian yang kita alami dan perlu ketenangan dalam pengambilan keputusan.

Pagi ini tidak seperti biasanya saya online sejak pagi, untuk berpikir lebih tenang dan jernih saya mematikan koneksi internet dan hasilnya, saya bisa berpikir lebih tenang dan hasil pemikiran itu menginspirasi diri saya sendiri.

Ask yourself these three questions

Pagi ini saya bertanya 3 pertanyaan pada diri sendiri, yaitu :

WHERE I AM NOW ?

Kita harus tahu kita ini sedang berada dalam tahap mana, kita harus tahu apa saja tanggung jawab kita. Mungkin sebagai seorang pekerja, seorang ayah/seorang ibu. Kita juga harus jujur, apakah kita menyukai hal yang kita lakukan sekarang? Apakah kita merasa sukacita dan damai sejahtera ketika kita bekerja di tempat kerja kita yang sekarang.

WHERE I WANT TO GO ?

Kita harus tahu hidup kita ini hendak dibawa kemana. Apa sebenarnya cita-cita saya, apa sebenarnya hasrat saya yang paling dalam, apa sebenarnya hal buruk yang ingin saya ubah sehingga dunia ini menjadi tempat yang lebih baik.

WHAT NECESSARY STEPS SHOULD I TAKE ?

Jika pertanyaaan nomor 1 dan 2 di atas sejalan, maka kita harus mengentahui langkah-langkah apa saja yang harus kita ambil sehingga hidup kita menjadi lebih baik. Namun jika tidak sejalan (kebanyakan orang berada di fase ini), maka kita harus berpikir untuk mengubah haluan dan mengubah sikap sehingga kita bisa sejalan dengan apa hasrat terdalam kita sebagai manusia.

Langkah yang terakhir adalah melakukan setiap langkah-langkah yang kita buat. Post ini adalah mengenai prinsip berpikir dengan mengambil prinsip dari fitur “zoom out”, di post yang lain saya akan berbagi mengenai cara kita melakukan apa yang telah kita rencanakan dari proses berpikir ini.

– be blessed –